Pacar spritual
Aku membuatkan mu puisi,
lalu malam perlahan turun,
aku kembali mengingatmu,
lalu kubuatkan kau sebait syair.
rindu adalah imajinasiku,
angin ingin berbagi,
tak sehelai pun kuberikan,
dan sepi adalah kekuatanku.
malam kuhaturkan terimakasih,
aku hangat dipelukmu,
lalu kita menjadi satu,
saat angin mengoncang cemburu,
#Waiwerang210820166;10.59
Minggu, 21 Agustus 2016
Sabtu, 20 Agustus 2016
Tentang Sunyi
Aku menikmati mu malam,
Lemah dan gemulai,
Aku mulai terbiasa,
Mencekam lalu sunyi hadir,
Pagi pun bersiap tuk kembali,
Namum mata adalah matahari yang menyinari siang,
Namum mata adalah matahari yang menyinari siang,
Desiran angin pun tak mampu mengusik,
Kan ku tunggu hingga fajar menjulang.
Kan ku tunggu hingga fajar menjulang.
Bicara tentang cinta,
Bosan tak berujung,
Bosan tak berujung,
Berlari dan merasakan semua yang terjadi.
Kilasan cahaya merantai,
Membuat terluka tubuh ini,
Tergulai lemah tak berdaya.
Membuat terluka tubuh ini,
Tergulai lemah tak berdaya.
Terlalu
naïf,
Tapi inilah kenyataannya.
Tapi inilah kenyataannya.
Untuk Mu Wanita Ku
Aku tak pernah sebahagia ini,
Aku kikuk menatap mu
Aku lemah disampingmu
Aku lupa pada malam kita bersua.
Hasratku membuncah,
Hasratku membara,
Duhai Wanitaku
Bawalah aku,
Aku rindu akan desahan nafasmu,
Aku pun lupa bagaiman mengeja namamu,
Duhai Wanitaku,
Aku selalu bermimpi tentangmu
Aku selalu merindukanmu,
Terima lah Aku menjadi pendampingmu.
Aku tak pernah sebahagia ini,
Aku kikuk menatap mu
Aku lemah disampingmu
Aku lupa pada malam kita bersua.
Hasratku membuncah,
Hasratku membara,
Duhai Wanitaku
Bawalah aku,
Aku rindu akan desahan nafasmu,
Aku pun lupa bagaiman mengeja namamu,
Duhai Wanitaku,
Aku selalu bermimpi tentangmu
Aku selalu merindukanmu,
Terima lah Aku menjadi pendampingmu.
Malam
Kau adalah puisi itu,
kudapati kau pada malam,
pada secarik kertas kosong,
kuisi kau dengan imajinasiku.
Masih rapi tersimpan,
wewangianmu pada lorong itu,
tak akan kuberikan pada angin sekalipun,
karena aku begitu aku serakah padamu.
Naif,
Ya aku begitu naif,
Memenjarakanmu pada secarik kertas kosong.
#Waiwerang20062016;11.00
Kau adalah puisi itu,
kudapati kau pada malam,
pada secarik kertas kosong,
kuisi kau dengan imajinasiku.
Masih rapi tersimpan,
wewangianmu pada lorong itu,
tak akan kuberikan pada angin sekalipun,
karena aku begitu aku serakah padamu.
Naif,
Ya aku begitu naif,
Memenjarakanmu pada secarik kertas kosong.
#Waiwerang20062016;11.00
Langganan:
Komentar (Atom)